I'm Yours

I'm Yours

By Author Gen-T · September 20, 2025 · Admin

Worship Music for Reflection

Aku MilikMu - Yudihans

"Orientasi"

Pernahkah Anda merasakan kehampaan atau bertanya-tanya, "Siapakah saya sebenarnya?" Di tengah dunia yang terus menuntut kita untuk menjadi seseorang sukses, populer, atau kuat sangat mudah bagi kita untuk kehilangan jati diri. Kita mencoba membangun identitas kita di atas pencapaian, hubungan, atau bahkan kegagalan. Namun, ada satu kebenaran yang jauh lebih mendasar dan membebaskan: kita adalah milik Tuhan.

Sebelum kita ada, Dia telah mengenal kita. Sebelum kita memilih-Nya, Dia telah memanggil nama kita. Pengakuan terbesar dalam hidup kita bukanlah tentang siapa kita, melainkan milik siapa kita. Ketika kita menyadari bahwa kita adalah milik-Nya, ketakutan dan kekhawatiran mulai kehilangan kuasanya.

"...Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau, Aku telah memanggil engkau dengan namamu, engkau ini kepunyaan-Ku." (Yesaya 43:1b)

Ayat ini adalah fondasi identitas kita. Kita bukan produk kebetulan, melainkan ciptaan yang sengaja ditebus dan dikasihi. Mengatakan "Tuhan, aku milik-Mu" adalah awal dari kehidupan yang penuh makna dan tujuan.

"Dibeli dengan Harga yang Lunas"

Seringkali kita berpikir bahwa menjadi milik Tuhan berarti kehilangan kebebasan. Padahal, yang terjadi adalah sebaliknya. Sebelum mengenal Kristus, kita adalah hamba dosa, terikat oleh keinginan duniawi dan ketakutan akan maut. Kita tidak benar-benar bebas; kita diperbudak.

Namun, pengorbanan Yesus di kayu salib mengubah segalanya. Darah-Nya menjadi harga lunas yang membayar utang dosa kita. Kita yang tadinya milik kegelapan kini telah dipindahkan ke dalam kerajaan terang-Nya. Status kepemilikan kita telah berpindah. Kita tidak lagi memiliki diri kita sendiri; kita telah dibeli dan kini menjadi milik Kristus. Ini bukan kepemilikan yang menindas, melainkan pembebasan yang mulia.

...bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu! (1 Korintus 6:19b-20)

Menyadari bahwa kita telah dibeli dengan harga yang begitu mahal—nyawa Anak Allah—seharusnya mengubah cara kita memandang hidup. Tubuh kita, waktu kita, dan talenta kita bukanlah milik kita untuk disia-siakan, melainkan alat untuk memuliakan Dia yang telah menebus kita.

"Hidup sebagai Persembahan yang Hidup"

Jika kita benar-benar milik Tuhan, bagaimana seharusnya kita menjalani hidup ini? Jawabannya adalah dengan mempersembahkan diri kita kepada-Nya. Rasul Paulus mendorong kita untuk memberikan seluruh hidup kita—bukan hanya sebagian kecil di hari Minggu sebagai "persembahan yang hidup."

Ini berarti setiap keputusan yang kita ambil, setiap kata yang kita ucapkan, dan setiap tindakan yang kita lakukan didasari oleh satu pertanyaan: "Apakah ini menyenangkan hati Tuhanku?" Menjadi milik-Nya berarti menyerahkan agenda pribadi kita dan mengikuti rencana-Nya. Keinginan kita diselaraskan dengan keinginan-Nya. Ini adalah tindakan penyembahan yang paling sejati, yang kita lakukan bukan karena terpaksa, melainkan karena cinta dan syukur atas anugerah-Nya.

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. (Roma 12:1)

Hidup sebagai milik Tuhan berarti kita tidak lagi hidup untuk diri sendiri, melainkan untuk Dia yang telah mati dan bangkit bagi kita.

Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. (2 Korintus 5:15)

Refleksi Pribadi

Renungkanlah:

Kesimpulan

Mengakui "I'm Yours" atau "Aku Milik-Mu" kepada Tuhan adalah deklarasi iman yang paling mendalam. Itu adalah pengakuan bahwa kita diciptakan oleh-Nya, ditebus oleh-Nya, dan dipelihara oleh-Nya. Di dalam kepemilikan-Nya, kita menemukan keamanan sejati. Seperti domba yang merasa aman di dekat gembalanya, kita pun menemukan kedamaian saat kita tinggal di dalam naungan-Nya.

Identitas kita tidak lagi goyah oleh badai kehidupan, karenaSaua kita berlabuh pada Dia yang tidak pernah berubah. Jadi hari ini, marilah kita dengan yakin dan sukacita menyatakan, "Tuhan, aku ini milik-Mu." (AV)

Tujuan Blessing percaya