Hati Seorang Hamba
Worship Music for Reflection
#SaatTeduh - Tuhan Inilah Hidupku (Yeshua Abraham)
"Orientasi"
Dunia seringkali mengajarkan kita bahwa kebesaran diukur dari jabatan, kekuasaan, atau seberapa banyak orang yang melayani kita. Namun, Yesus datang dan memutarbalikkan semua pandangan itu. Di dalam Kerajaan Allah, kebesaran tidak diukur dari seberapa tinggi posisi kita, tetapi dari seberapa rendah kita mau membungkuk untuk melayani orang lain. Inilah yang disebut "Hati Seorang Hamba"—sebuah pola pikir dan kerinduan hati untuk menolong, mengangkat, dan mementingkan orang lain, bukan karena terpaksa, tetapi karena didasari oleh kasih.
"Meneladani Sang Hamba Agung"
Teladan utama dari seorang hamba adalah Yesus Kristus sendiri. Ia menunjukkan bahwa inti dari hati seorang hamba adalah kerendahan hati. Alkitab menggambarkannya dengan luar biasa dalam Filipi 2:5-7 (TB)
Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. (Filipi 2:5-7)
Bayangkan, Raja segala raja rela melepaskan kemuliaan-Nya untuk menjadi pelayan. Ini mengajarkan kita bahwa melayani bukanlah tanda kelemahan, melainkan kekuatan dan kasih yang sejati.
"Pelayanan Dimulai dari Hal-hal Kecil"
Memiliki hati seorang hamba tidak selalu berarti harus melakukan hal-hal besar atau menjadi seorang misionaris di tempat jauh. Hati seorang hamba justru paling sering teruji dan terlihat dalam rutinitas kita sehari-hari. Itu terlihat saat kita dengan sabar mendengarkan keluh kesah teman, membantu rekan kerja yang kesulitan tanpa diminta, atau bahkan melakukan pekerjaan rumah tangga dengan tulus untuk keluarga. Yesus sendiri merangkum seluruh misi hidup-Nya dalam Markus 10:45 (TB). Jika Yesus saja datang untuk melayani, maka setiap kesempatan kecil bagi kita untuk melayani adalah sebuah kehormatan besar.
Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Markus 10:45)
Refleksi Pribadi
Renungkanlah:
- Siapa satu orang di sekitar saya yang bisa saya layani dengan tulus minggu ini? Apa tindakan pelayanan sederhana yang bisa saya lakukan untuknya?
- Saat saya menolong orang lain, apakah motivasi saya lebih sering karena ingin dilihat baik oleh orang lain, atau murni karena kasih kepada Tuhan dan sesama?
- Bagaimana saya bisa mulai melihat tugas-tugas saya sehari-hari (di rumah atau pekerjaan) sebagai sebuah kesempatan untuk melayani?
Kesimpulan
Memiliki hati seorang hamba adalah sebuah proses yang dikerjakan Tuhan di dalam diri kita setiap hari. Ini adalah pilihan harian untuk mengesampingkan ego dan bertanya, "Siapa yang bisa saya tolong hari ini?". Imbalan terbesar dari melayani bukanlah pujian dari manusia, melainkan sukacita karena kita menjadi semakin serupa dengan Kristus dan ikut ambil bagian dalam pekerjaan-Nya di dunia. Mari kita minta kepada Tuhan agar Dia terus membentuk hati kita menjadi hati seorang pelayan yang tulus.(AV)