Who Am I?
Worship Music for Reflection
#SaatTeduh - Kasih SetiaMu (Yeshua Abraham)
"Orientasi"
Di antara seluruh untaian kata yang indah dalam lagu ini, pertanyaan "Siapakah aku ini Tuhan, jadi biji mataMu?" menjadi jangkar perenungan yang paling dalam. Pertanyaan ini menyuarakan seruan universal dari hati manusia yang merasa kecil dan tak berarti di hadapan Pencipta yang Mahabesar. Dalam kesadaran akan segala kelemahan dan kegagalan kita, seringkali kita merasa tidak layak. Namun, lirik ini tidak berhenti pada pertanyaan tentang ketidaklayakan kita, melainkan langsung menyandingkannya dengan sebuah kebenaran yang radikal dan mengubah segalanya: di mata Tuhan, kita adalah pribadi yang begitu berharga, dikasihi secara istimewa, dan dilindungi dengan cermat layaknya "biji mata-Nya". Perenungan ini mengajak kita untuk memahami identitas sejati kita, bukan dari apa yang kita rasakan tentang diri sendiri, tetapi dari cara Tuhan memandang kita melalui kasih-Nya yang tak terbatas.
"Kasih-Nya yang Tak Terukur"
Perenungan atas kasih Tuhan yang "lebih tinggi dari langit biru" membawa kita pada pemahaman akan kedaulatan dan kemahabesaran-Nya. Langit berbicara tentang sesuatu yang tak terbatas dan tak terjangkau oleh manusia.
tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia. (Mazmur 103:11)
Ini bukan sekadar kiasan puitis, melainkan sebuah jaminan bahwa kasih Tuhan tidak dibatasi oleh kondisi kita, kesalahan kita, ataupun keterbatasan dunia ini. Di sisi lain, kebaikan-Nya yang "lebih dalam dari lautan" mengingatkan kita akan hikmat dan rancangan Tuhan yang tak terselami.
O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya! (Roma 11:33)
Kebaikan-Nya bukanlah kebaikan yang dangkal, melainkan sebuah anugerah yang berakar pada hikmat-Nya yang kekal, yang telah menyediakan hal-hal terbaik bagi kita.
- Pernahkah Anda merasakan sebuah berkat atau pertolongan Tuhan yang "tidak pernah Anda pikirkan sebelumnya"? Coba ingat kembali momen itu dan apa yang Anda rasakan.
- Dalam situasi apa Anda merasa paling sulit untuk percaya bahwa kasih Tuhan "lebih tinggi dari langit" dan tetap ada untuk Anda?
- Apa artinya bagi Anda secara pribadi bahwa Tuhan memandang Anda sebagai "biji mata-Nya"? Bagaimana kebenaran ini dapat mengubah cara Anda memandang diri sendiri hari ini?
- Selain bernyanyi, dalam bentuk praktis apa lagi Anda dapat mengekspresikan "puji dan sembah" kepada Tuhan dalam kehidupan sehari-hari?
Respons Hati yang Bersyukur
Ketika kita menyadari betapa luas dan dalamnya kasih Tuhan, pertanyaan "Siapakah aku ini Tuhan, jadi biji mataMu?" menjadi sebuah seruan kerendahan hati yang tulus. Menjadi "biji mata" Tuhan (Zakharia 2:8) berarti kita begitu berharga, dilindungi, dan dijaga oleh-Nya. Ini bukanlah karena kehebatan kita, tetapi murni karena anugerah-Nya. Kesadaran ini menuntun kita pada satu-satunya respons yang paling pantas: "Dengan apakah ku balas Tuhan, selain puji dan sembah Kau". Persembahan kita bukanlah sebuah "pembayaran" atas kebaikan-Nya, melainkan sebuah luapan syukur dari hati yang telah dipenuhi oleh kasih-Nya yang ajaib. Tuhan tidak menuntut kita untuk membalas dengan hal-hal yang setara, karena kita tidak akan pernah mampu. Sebaliknya, Ia rindu kita datang kepada-Nya dengan hati yang memuji dan menyembah, mengakui siapa Dia dan siapa kita di hadapan-Nya
Bagi Dialah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak dari pada yang kita doakan atau pikirkan, seperti yang ternyata dari kuasa yang bekerja di dalam kita (Efesus 3:20)
Refleksi Pribadi
Renungkanlah:
Kesimpulan: Hidup Dengan Tujuan Ilahi
Secara keseluruhan, lirik lagu ini mengajak kita untuk beralih dari fokus pada diri sendiri kepada kebesaran Tuhan. Perenungan ini membawa kita pada kesimpulan bahwa nilai dan identitas kita tidak ditentukan oleh pencapaian atau siapa kita menurut dunia, melainkan oleh bagaimana Tuhan memandang kita: sebagai biji mata-Nya yang berharga. Respons alami dari hati yang telah merasakan kasih sedalam lautan dan setinggi langit adalah kehidupan yang senantiasa memuji dan menyembah-Nya, bukan karena kewajiban, tetapi karena kekaguman dan rasa syukur yang meluap. (AV)